09/03/17

( PROLOG Novel ) To The Sky Kingdom aka Ten Miles of Peach Blossom



TO THE SKY KINGDOM 
A Chinese Novel by Tang Qi
original cover Novel  To The Sky Kingdom

translate by @youridaehan
PROLOG

Ia benar-benar merasa telah kehabisan tenaga.

“itu karena anda sedang mengandung kaisar kecil yang mulia, tentu saja anda akan merasa lelah, anda tak perlu khawatir.Nai Nai berkata.

Nai Nai adalah pelayannya sekaligus satu-satunya immortal (makhluk abadi) di istana Xiwu Langit Kesembilan yang mau tersenyum padanya dan memanggilnya dengan sebutan "Yang mulia". Immortal lain selalu merendahkannya. Su Su selalu berpikir ini karena karena Ye Hua memang belum secara resmi menikahinya di dunia para immortal dan juga karena dia tak sama seperti mereka: dia hanyalah manusia .

Nai Nai membuka jendela, angin sejuk menyusup melalui jendela kamar, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar. 

"Yang mulia pangeran datang untuk mengunjungimu yang mulia."  Nai Nai berkata dengan gembira.

Dengan gerakan seberti sebuah boneka kayu, Su Su menarik dirinya dari bawah selimut dan kemudian duduk bersandar di ujung tempat tidurnya. Dia tak tahu sudah berapa lama ia tidur, tetapi kepalanya masih terasa berkabut, dia baru saja bangun, namun dia masih merasa lelah, benar-benar lelah.

Dia baru saja akan menenggelamkan dirinya kembali kedalam selimutnya lagi saat Ye Hua, pangeran berambut hitam-panjang, dengan pakaian dan jubah hitamnya, datang dan kemudian duduk ditepi tempat tidur.

Sambil menggenggam selimut, Su Su berusaha menegakkan tubuhnya.

Ada kebisuan.

Su Su berpikir bahwa Ye Hua pasti sedang marah. Kapan semua ini bermula?  rasa takut yang justru yang muncul kapanpun Su Su melihat pria yang ada didepannya. Seakan-akan pikiran itu sudah hampir menjadi refleks baginya. kau tak boleh membiarkan dia tahu bahwa kau masih marah terhadapnya, Kau tak boleh menyakitinya. diam-diam Su Su berbicara didalam hatinya sembari berfikir dalam kebingungan.

"Apakah bulan bersinar terang malam ini?" Su Su bertanya lirih . Dia mencoba untuk tak gemetar, tetapi suara yang keluar dari bibirnya terdengar gemetar.

“Su Su, ini siang hari.” Ye Hua berkata tanpa jeda.

Su Su menggerakkan tangannya kewajahnya sendiri secara refleks untuk mengusap matanya, tetapi malahan tangannya mengenai sutera putih yang menutupi kedua matanya. Su Su tiba-tiba teringat : dia sudah tak memiliki mata. Tak peduli seberapa banyak ia mengusapnya, semua yang bisa dia lihat hanyalah kegelapan. Sebagai manusia dia tak pernah memahami keadaan langit istana, dan apalagi sekarang saat dia telah buta.

Ye Hua membelai wajahnya dalam keheningan dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya ia berkata.

"Aku akan segera menikahimu secara resmi disini. Mulai sekarang, aku akan menjadi matamu. Su Su, aku akan menjadi matamu."
 

Tangan yang mengusap wajahnya terasa sangat dingin, dan meskipun gesturnya terasa lembut, namun rasanya justru seperti sebuah pisau menikam tepat di jantungnya. Su Su tiba-tiba teringat kembali akan mimpi buruk tadi malam dan menjadi sangat takut, sampai-sampai tubuhnya mulai gemetar dan tiba-tiba ia  mendorong Ye Hua untuk menjauh.

"A..a..aku…aku tidak sengaja mendorongmu," Su Su buru-buru menjelaskan, "Kau jangan marah Ye Hua."

Ye Hua mendekap tangan Su Su, "Su Su, ada masalah apa?".

Tiba-tiba Su Su merasa seperti  ada luka yang menyebar melalui jantungnya seperti tetesan tinta menetes diatas selembar kertas.

"A..aku tiba-tiba mulai merasa sangat lelah," katanya berbohong, giginya saling gemeretak, "Kau lanjutkan pekerjaanmu, aku ingin beristirahat lagi, jangan khawatir tentangku."

Suasana menjadi semakin hening.

Su Su benar-benar tak ingin Ye Hua mengkhawatirkannya lagi. Dalam keheningan Su Su berpikir, jika memang Ye Hua mencintai gadis-lain-itu mengapa dahulu dia mau menerima permintaan absurd yang ia buat, dahulu…dahulu…dia terus dipenuhi dengan penyesalan, mengapa dulu ia tak memilih tindakan yang berbeda. 

Beberapa saat setelah Ye Hua pergi, dan Nai Nai datang dan kemudian mengunci pintu.

Su Su duduk sebentar diranjangnya sambil memeluk selimut, ia benar-benar merasa kesepian. Dia kemudian merebahkan badanya membenamkan diri jauh ke ranjangnya, tiba-tiba kepalanya dipenuhi dengan  gambaran yang kacau balau: ia melihat Gunung Junji di sebelah timur padang pasir. 

Saat aku sudah melahirkan anak ini, aku akan kembali ke gunung Junji. Itu adalah tempat dimana aku berasal. Penghancuran cinta akan berakhir ditempat dimana itu dimulai. Segera ini semua akan berakhir. Dalam kebingungannya ia membuat suatu keputusan besar.

Su Su meletakkan tangannya pada sutera putih yang membalut kedua matanya, tempat dimana matanya seharunya berada, menahan sakit, suaranya agak sedikit tercekat tetapi ia tak menangis. Dia jatuh tertidur pulas cukup lama sampai akhrnya  Nai Nai datang, pelan-pelan mendorong pintu dan masuk.

"Yang mulia..yang mulia apakah anda sudah bangun?" Pelayan itu bertanya pelan.

Tenggorokannya terasa serak untuk berbicara. "Ada apa?" Su Su berkata lirih.

Suara langkah kaki Nai Nai berhenti, " Yang mulia, Pelayan Su Jin baru saja tiba membawa pesan, Su Jin mengundangmu untuk minum teh bersamanya."

Kesal, Su Su menarik selimut untuk menutup wajahnya.
"Katakan padanya aku sedang tidur."

Akhirnya ketika Su Su sudah bisa lebih berfikiran positif  dia berpikir, itu pasti karena Su Jin merasa bersalah padanya, Su Jin telah menerima matanya; kebutaannya sekarang ini adalah kesalahan wanita itu. Su Jin lah yang membuat Ye Hua mengambil kedua matanya.

Orang-orang itu, Su Su tak ingin lagi bertemu satupun dari mereka, selamanya. Dia bahkan berharap untuk tak pernah mengenal mereka, dia bukan lagi gadis naif  3 tahun lalu, gadis naif yang dengan bebas kesana-kemari tanpa takut apapun.

Matahari turun dibelakang gunung ketika Nai Nai membangunkanya. Pelan-pelan mendekatinya, Nai Nai menjelaskan bahwa dihalaman depan  ada matahari tenggelam yang sangat indah, dan udara yang bertiup semilir. Ini adalah waktu yang sempurna baginya untuk duduk bersantai di halaman. Ia sudah tidur sepanjang hari, dan tulangnya mungkin sudah terasa kaku, sedikit jalan-jalan akan bagus untuknya. Nai Nai memindahkan sebuah kursi yang terbuat dari batu kehalaman dan bersiap untuk membantu Su Su keluar, namun Su Su mengangkat tangannya dan menghentikan gadis pelayan itu. Ia mencoba untuk melakukannya sendiri, meraba-raba meja dan dinding untuk membantunya berjalan, bergerak langkah demi langkah. Berjalan sekarang terasa sangat melelahkan, dia tersandung beberapa kali, tetapi ia dapat merasakan cahaya matahari menyinari dirinya. Dia harus belajar mandiri sesegera mungkin. Ini sangat penting apalagi jika ia ingin kembalike gunung Junji dan menjalani kehidupan yang layak.

Ketika ia sedang duduk di kursi batu menikmati angin yang bertiup, dia merasa kepalanya terasa pusing lagi, kemudian tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri, terbenam kedalam mimpi. Mimpi ini membawanya kembali ke gunung Junji, kembali ke saat 3 tahun lalu, kembai saat dimana pertama kali ia melihat Ye Hua.

Seorang pria muda tampan pingsan didepan rumah gubuknya. Pria itu memiliki rambut hitam dan pakaian yang serba hitam. Ia menggenggam sebuah pedang dan seluruh tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki semua tertutup darah. Su Su berdiri tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia berlari dan membawanya masuk kedalam. Su Su memberinya obat untuk mengobati luka-lukanya dan ajaibnya lua-luka itu sembuh seketika didepan matanya. Kurang dari dua hari, luka yang mengancam nyawa telah sepenuhnya sembuh. Pria muda itu terbangun dan diam-diam melihatnya. 

Ketika akhirnya pria itu berbicara, suaranya terdengar sangat tenang dan menyenangkan. Dia berterima kasih kepada Su Su karena telah menyelamatkan hidupnya dan berkata bahwa dia akan membalas kebaikannya. Su su berkata padanya bahwa siapapun yang ada di posisinya akan melakukan hal yang sama, semua yang ia lakukan hanyalah memberikan dua dosis obat herbal. Tetapi pria itu terus memaksa untuk membalasnya. Akhirnya Su Su berkata bahwa ia menginginkan setumpuk emas dan perak, pria muda itu menatap padanya dengan kebingungan. “menyelamatkan hidupku jauh lebih berharga nilainya dibandingkan setumpuk emas dan perak,” kata pria itu. Seumur hidup Ye Hua, ia benar-benar tak pernah menemui penyelamat seputus asa wanita didepannya.


Terus ditekan, dia Su Su berkata, "Mengapa tidak kamu bayar hutang ini dengan dirimu?"

Ye Hua menatap gadis itu dengan keheranan, dan kemudian permintaan absurd itu lah yang membawa mereka menjadi kekasih dan kemudian menjadi suami isteri.

Su Su tak pernah bisa mengingat siapa dirinya, siapa keluarganya dan dari amna ia berasal, sejauh yang mampu dia ingat,ia telah lama tiggal sendirian di gunung Junji. Semua yang ia ketahui hanyalah perubahan musim dan mkahluk-makhluk yang ada digunung : burung-burung, monster, serangga, dan ikan. Ia tak mempunyai suami, dan bahkan tak mempunyai nama. Pria muda itulah yeng memanggilnya dengan nama Su su dan berkata padanya bahwa mulai sekarang itu adalah namanya, selama berhari-hari ia merasa sangat gembira karena akhirnya memiliki sebuah nama.

Kemudian, nantinya pria muda itu membawanya ke Langit kesembilan, Su Su akhirnya mengetahui bahwa pria itu adalah cucu dari kaisar langit, sang putra mahkota kerajaan langit. Ketika itu Ye Hua belum sepenuhnya resmi menjadi pewaris tahta kerajaan langit.

Tak ada satupun di langit kesembilan yang mengakuinya sebagai isteri Ye Hua. Ye Hua pun tak pernah mengatakan pada kaisar langit bahwa dia telah menikahi seorang manusia yang ia temui di padang pasir timur.

Satu malam Su Su pergi kekamar Ye Hua untuk membawakannya semangkuk sup daging. Tak ada satupun penjaga saat itu. Kemudian dia mendengar kepala selir, Su Jin, berbicara sambil menangis kepada Ye Hua.

"Akui itu, alasan satu-satunya mengapa kau menikahi seorang manusia karena aku menghianatimu dengan menikahi kaisar langit bukan? Tetapi apakah aku punya pilihan? Apakah ada satupun wanita di empat samudra dan delapan padang pasir ini yang dapat menolak kasih sayang kaisar ? Katakan padaku Ye Hua, aku adalah satu-satunya yang kau cintai bukan? Kau memberinya nama Su Su karena itu mengingatkanmu pada namaku, Su Jin, bukankah begitu?”.

Su Su terbangun tiba-tiba dari mimpinya dengan ketakutan, bajunya basah oleh keringat dingin. Mimpinya menggambarkan kejadian-kejadian sama persis seperti apa yang pernah terjadi. Dia berbaring disitu tanpa bergerak selama beberapa saat sebelum mengangkat tanganya dan mengusap perutnya yang semakin membesar. Ini sudah hampir 3 tahun sejak ia mengandung anak ini, bayi ini harus segera lahir.

Kegelapan malam telah datang, tetapi Nai Nai masih belum datang untuk membantunya bersiap untuk ketempat tidur. Dia tidak bisa membasuh dirinya sendiri, akhirnya ia akhirnya terpaksa untuk memanggilnya. Nai Nai datang dengan membawa selimut bordir yang terlipat rapi.

"Tunggu sebentar yang mulia, yang mulia mungkin masih akan datang untung berkunjung."

Mendengar itu Su Su menahan tawa, sebuah tawa pahit, Ye Hua sudah tak pernah lagi tidur dikamarnya sejak kejadian itu dan mungkin tak akan pernah lagi. Namun bagaimanapun juga Su Su tak peduli. Jika di muncul, mereka hanya akan berbaring disana dalam kebisuan dan mungkin Su Su akan berakhir dengan membuat Ye Hua marah.

Berada disini benar-benar membuat Su Su merasa kehidupannya sia-sia. Dia tak pernah menyadari ini sebelumnya, dulu ia selalu berpikir bahwa Ye Hua akan selalu ada disana untuk menjaganya, tetapi kejadian itu benar-benar serangan telak baginya, dan yang lebih menyakitkan adalah ketika orang yang menyakitimu adalah satu-satunya orang yang paling kau percaya, Su Su mengepalkan tanganya sendiri yang mulai bergetar tak terkontrol, membuatnya harus mengepalkan tanganya kuat-kuat.

Jika dulu Ye hua mengatakan padanya bahwa ia sudah mencintai wanita lain ketika mereka masih di gunung Junji, Su Su tak akan pernah membuat permintaan absurd untuk menikahi Ye Hua. Su Su bahkan belum jatuh cinta pada Ye Hua saat itu. Dia hanya merasa sangat kesepian hidup sendirian diantara gunung dan lebatnya hutan selama bertahun-tahun,ia membutuhkan teman sekaligus pendamping.

Tetapi saat itu Ye Hua tak berkata apapun saat mendengar permintaan absurdnya, dia langsung menyetujuinya, dia membuat upacara pernikahan kecil sebagaimana mestinya dan kemudian membawanya ke langit kesembilan.

Itu adalah saat dimana segala sesuatu mulai terasa suram. Segalanya tak lagi semudah seperti saat hanya mereka berdua di gunung Junji. Dia terus menerus terjebak diantara gosip dan tatapan sinis para immortal itu. Namun Su Su mencoba untuk selalu berpikiran positif, dan mengabaikan semua rumor. bagaimanapun , Su Su terus berkata pada dirinya sendiri, dia adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Ye Hua, mereka sudah bersujud membuat sumpah pada langit dan bumi. Dia sekarang mengandung anaknya dan satu-satunya yang dia harapkan adalah satu hari nanti cintanya kepada Ye Hua akan dapat bersemi.

Bagi Su Su, Ye Yua adalah sosok yang sangat lembut kepadanya, bahkan jika Ye Hua benar-benar tak mencintainya, dia akan sebisa mungkin membuat dirinya nyaman. Tetapi kemudian sebuah insiden terjadi, dan harga mahal yang harus ia bayar, kehilangan kedua matanya, kehilangan pengelihatanya.

Saat itu cuaca sangat cerah, angin bertiup semilir, ketika Su Jin mengundangnya ke kolam permata untuk mengagumi bunga-bunga, dia berfikir itu hanyalah pelesir sekelompok wanita istana dan dengan bodohnya ia langsung menerima ajakan itu. Su Su tiba di kolam permata dan kemudian ia baru mengetahui bahwa disana hanya ada mereka berdua dirinya dan Su Jin.

Su jin menyuruh semua pelayannya pergi dan kemudian mengajaknya ke platform Zu Xian (teras hukuman) yang terselubungi debu.

Su jin berdiri terpaku di teras itu dan tertawa dingin.
"apakah kamu tahu bahwa kaisar langit akan meresmikan Ye Hua sebagai putera mahkota pewaris tahta kerajaan langit? dan dalam waktu yang bersamaan kaisar juga akan memberikanku kepada Ye Hua sebagai isterinya.”

Su Su tak pernah mengerti aturan dan permainan para immortal, ia merasa darahnya tersentak diantara dada dan perutnya, tapi ia tak yakin itu karena rasa marah atau bingung.

Sang selir berdiri disana dan dengan pelan tertawa lagi, ”Ye Hua dan aku saling mencintai, langit kesembilan bukanlah tempat untuk manusia sepertimu. Saat kau sudah melahirkan bayimu kau seharusnya melompat turun dari teras Zhu Xian ini dan kembali ketempat asalmu.”

Su Su tak tahu jika ia melompat dari teras ini apakah ia benar benar dapat kembali ke gunung junji, dan dia belum berpikir untuk turun panggung dan menyerah.

"apakah Ye Hua ingin aku kembali?" Su Su bertanya dalam kebingungan, "Aku isterinya, aku seharusnya berada dimana ia juga berada."

Ketika Su Su kembali mengingat-ingat percakapan itu, dia menyadari betapa banyak kenaifan dan kebodohan dirinya yang ia perlihatkan kepada Su Jin. Dahulu pikiran penuh harapnya terus berpikir bahwa Ye Hua masih mencintainya meskipun hanya sedikit, setidaknya cukup untuk terus bersama dimasa depan, selama Ye Hua masih mencintainya meski hanya sedikit ,Su Su masih dapat mampu untuk bertahan disisinya.

Su Jin tiba-tiba mencengkram tangan Su Su, dia menariknya ke tepi teras dan berusaha mendorong Su Su, menindih wajahnya ke tepian platform. Karena panik, tangan Su Su meraih tiang kayu yang ada di sekitar patform dan berpegangan erat-erat, dan akhirnya malah Su Jin jatuh dan nyaris terperosok kedalam lubang platform.

Sebelum Su Su menyadari apa yang sebenarnya terjadi, seseorang pria berbaju hitam datang dan membantu  Su Jin berdiri. Pria itu Ye Hua.
Ye Hua berdiri sembari menggendong Su Jin, melihat dengan tatapan dingin kearah Su Su, bagaikan monster berbulu muncul diantara mata gelapnya.

"jangan salahkan Su Su," Su Jin berkata sambil bernapas lemah, "Aku yakin, dia tidak sengaja mendorongku. Dia hanya….hanya mendengar tentang kaisar langit yang akan menjadikanku isterimu dan dia bereaksi spontan.”

Su Su membuka matanya lebar-lebar karena tak percaya, dia benar-benar tak melakukan kesalahan apapun.

"itu bukan aku, bukan aku ! percayalah padaku Ye Hua, kau harus percaya padaku..”

Lagi dan lagi dia mencoba untuk menjelaskan padanya, terdengar panik dan seakan sedang memutar balikkan fakta, benar-benar seperti orang bodoh yang menyedihkan.

Ye Hua mengangkat tanganya untuk membuatnya diam, ”cukup !” dia membentak dengan suara yang dalam. "Aku tahu apa yang aku lihat."


Ye Hua tak mau mendengarkannya. Dia tak mempercayainya. Ia menggendong Su Jin , alisnya menyatu, dan matanya sedingin es, dia buru buru menuruni platform Zhu Xin, meninggalkan Su Su sendirian disana.

Su Su tak sadar bagaimana dia berjalan dalam kebingungan dan kembali ke kamarnya, semua yang dia ingat adalah api kemarahan yang baru saja ia lihat dimata Ye Hua.

Tak lama setelah malam datang, Ye Hua kembali kekamarnya ia dan berdiri dibelakangnya, terlihat muram.

"Energi iblis dibawah platform Zhu Xian menyebabkan kerusakan serius pada mata Su Jin. Su Su, dan sebagai gantinya kau harus membayar apa yang telah kau lakukan," dia berhenti sejenak, "Tetapi jangan takut, aku akan menikahimu, mulai sekarang aku akan menjadi matamu," Setelah berhenti lagi ia mengulangi, "Jangan takut, mulai sekarang aku akan menjadi matamu.”

Ye Hua sebelumnya tak pernah berkata akan menikahinya secara resmi di langit kesembilan ini, Su Su merasakan kedinginan di dalam hatinya, kemarahan dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu, dia tak pernah membayangkan dirinya akan kehilangan kontrol seperti itu, menggenggam tanganya dan kemudian dengan histeris berkata, "kenapa kau menginginkan mataku? dia melompat karena keinginanya sendiri. Ini bukan kesalahanku, kenapa kau tidak mempercayaiku?"

Mata Ye Hua Nampak dipenuhi kepahitan."Para iblis bergelantungan dibawah platform, apakah kau pikir Su Jin benar-banar mau melompat  atas kemauanya sendiri?," dia menatap sinis.  "Su Su, kau menjadi semakin keterlaluan dari hari ke hari."

Su Su menatap Ye Hua dalam-dalam dengan kebingungan, matanya berubah seperti membeku, Ye Hua adalah segalanya dan satu-satunya yang ia miliki di langit kesembilan ini. Sejak mengandung anaknya dia selalu membayangkan bahwa satu hari nanti, dia dapat berdiri bersama dengan Ye Hua, menggenggam tangan anak mereka bersama-sama sambil melihat lautan yang dipayungi awan dan disinari ribuan cahaya matahari. Ye Hua tak mngerti betapa pentingnya mata ini untuk Su Su, ini sangat penting baginya.

Ye Hua mengambil matanya.

Nai Nai menghabiskan waktu selama tiga hari untuk terus menjaganya, beberapa hari kemudian Su Jin datang dan berdiri dibelakangnya, "Kau akan senang mendengar bahwa aku telah menggunakan matamu dengan baik." dia berkata sambil tertawa.

Semuanya menjadi jelas, ini adaah niat Su Jin sejak awal. Su Su bukanlah apa-apa baginya melainkan hanya orang lewat yang terseret diantara kisah cinta mereka berdua

Seiring berjalanya waktu, Su Su mulai semakin terbiasa dengan kebutaannya, dia sudah tak merasa bingung lagi membedakan antara siang dan malam, dia juga belajar untuk mempertajam pendengarannya, mendengarkan suara-suara yang mampu membantunya membedakan waktu.

Su Su baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika Nai Nai buru buru menghampirinya, "Yang mulia.. yang mulia," dia memanggil sambil kehabisan napas. "Kaisar langit baru saja memberikan dekrit kerajaan, di-di-dia yang mulia pangeran Ye Hua.”

Su Su tertawa kecil, Ye Hua sudah resmi menjadi calon penerus tahta kerajaan langit beberapa saat yang lalu. Ini hanya masalah waktu sebelum berita ini tersebar. 

Tetapi Su Jin tak akan menjadi satu-satunya calon isteri Ye Hua, baru- baru ini Su Su mendengar bahwa kaisar langit sudah sejak lama membuat sebuah perjanjian dengan raja dari suku Qingqiu, bahwa siapapun yang akan mewarisi tahtanya harus menikahi anak perempuan Bai Zhi, Bai Qian. 

Meski Ye Hua tak pernah berkata apapun padanya tentang hal ini, namun Su Su bisa mengetahuinya jika dia ingin, dia tak sebodoh dan seputus asa seperti yang mereka pikir.

Dia berpikir bahwa dia tak seharusnya terjerat dengan dunia para immortal ini, kemudian tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang amat sangat diperutnya.

"Yang mulia ada sesuatu yang tidak beres?" Nai Nai menangis keras lagi dan lagi.

Su Su meletakkan tanganya diperutnya dan terbata-bata mencoba berbicara, "aku pi-pi pikir aku mung-kin akan segera melahirkan ,"

Su Su pingsan selama proses melahirkan, tetapi rasa sakit membuatya kembali tersadar. Dulu, ketika matanya diambil dan diberikan kepada Su Jin, ia mendengar bahwa Ye Hua selalu berada disamping Su Jin sepanjang malam, Sementara itu ketika dia akan melahirkan anak mereka, dia hanya memiiki Nai Nai disampingnya. Rasa sakit yang luar biasa benar benar membuat nya lemah. Tetapi dia menahan dirinya untuk tidak memanggil nama Ye Hua, dia akan berusaha melewati ini sendiri dia sudah cukup merasa marah, dia tak ingi menambahkan luka lagi.

"Yang mulia, tolong lepaskan tanganku," Nai Nai memohon sambil bercucuran air mata. "Aku akan pergi memanggil yang mulia putra mahkota".

Su Su sangat merasa sakit sampai dia tak mampu berbicara, yang bisa ia lakukan hanyalah menggumam, ”Tinggalah denganku sedikit lebih lama Nai Nai, hanya sebentar saja.”

Nai Nai menangis lebih keras, akhirnya bayi itu lahir, seorang bayi laki-laki.

Dia tak tahu kapan Ye Hu datang, tetapi ketika dia bangun dia merasakan tanganYe Hua berada di sekitanya. Tangannya masih sedingin es, Su Su menarik tangannya dan bahkan bila ia ingin menggenggamnya itu hanya akan membuatnya menggigil.

Ye Hua menggendong bayinya dan berkata, "Usap wajah kecilnya Su Su, Kamu akan merasakan betapa miripnya ia denganmu."

Su Su tak bergerak. Dia sudah mengandung bayi ini selama tiga tahun, dia sudah menemani bayi itu siang dan malam, tak terhitung jumlahnya, dan tentu saja dia mencintai putranya tetapi dia tak dapat membawanya kembali ke gunung Junji bersama dengannya. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkannya, dia tak ingin menyentuh ataupun memeluknya .

Ye Hua duduk diampingnya untuk waktu yang lama. Su Su tak mengatakan sepatah katapun bahkan ketika bayi itu rewel dan menangis. Segera setelah Ye Hua pergi Su Su memanggil Nai Nai. Dia berkata kepada pelayan itu bahwa ia telah memberikan nama untuk si bayi, A Li. Su Su membuat Nai Nai berjanji untuk selalu menjaga A Li, benar-benar tanpa rasa curiga Nai Nai menyetujuinya.

Ye Hua datang mengunjungi Su Su setiap hari, dia memang tak pernah banyak bicara, dimasa lalu, Su Su lah yang selalu banyak berbicara, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Sebagian besar waktu yang ada mereka gunakan untuk duduk dalam kebisuan. Beruntungnya hal itu tak pernah membuat Ye Hua marah. Ye Hua benar-benar mengerti betapa rapuhnya Su Su setelah melahirkan, selama keheningan ini, Su Su kadang-kadang mengingat kembali hal terakhir yang dia lihat sebelum dia kehilangan matanya, mata Ye Hua yang penuh dengan kedinginan. Kapanpun ia mengingat gambaran itu dia akan secara reflek gemetar.

Ye Hua tak pernah mengatakan sepatah katapun tentang pernikahanya dengan Su Jin yang akan segera dilaksanakan, begitu juga dengan Nai Nai.

Butuh waktu tiga bulan sebelum akhirnya Su Su sepenuhnya sembuh pasca melahirkan. Ye Hua membawakannya sebaris kain yang berbeda-beda dan memintanya untuk memilih mana yang paling ia sukai. Ye Hua ingin membuatkan Su Su sebuah gaun pengantin.

"Aku sudah pernah menjelaskan Su Su, bahwa aku ingin  menikahimu secara resmi disini.

Menurut Su Su hal itu sangat aneh, Ye Hua ingin menikahinya setelah dia sendirilah yang telah mengambil matanya darinya.

Baginya, Ye Hua melakukan semua ini  karena ia merasa bersalah terhadapnya, dia adalah manusia tanpa mata. Dan jika meskipun bagi Ye Hua dirinya wanita tercela dan kebutaannya merupakan akibat perbuatanya sendiri, namun Ye Hua mungkin berpikir  bahwa dirinya membutuhkan belas kasihan. Dia dapat memiliki selir sebanyak yang ia mau, dan memberikannya status sebagai seorang istri tak berarti apa-apa, itulah yang saat ini Su Su pikirkan.

Dia tahu dia harus pergi, tak ada alasan baginya untuk tetap tinggal dilangit kesembilan.

Na Nai keluar menemannya berjalan-jalan, mereka berdua mengulang-ulang rute dari istana Xiwu ke platform Zhu Xian, Nai Nai merasa ada yang aneh, tetapi Su Su menjelaskan kepada gadis pelayannya itu bahwa ia ingin menikmati bau bunga lotus yang ada di sepanjang jalan.

Dalam waktu sekitar dua minggu, ia sudah belajar untuk bergantung pada inderanya, mengarahkan sendiri jalan diantara istana Xiwu ke platform Zhu Xian, membohongi Nai Nai bukanlah hal yang terlalu sulit.

Berdiri di depan platform Zu Xian , Su Su tiba-tiba merasakan tubuhnya seringan angin. A-Li sedang bersama Nai Nai, jadi Su Su tak perlu khawatir tentangnya. Berdiri di platform yang tinggi ini , dikeliling oleh awan dan debu yang tak terbatas, ia tiba-tiba terpikir untuk kembali menjelaskan pada Ye Hua untuk terakhir kalinya bahwa dia tidak pernah mendorong Su Jin, bahwa ia bukanlah yang seharusnya membayar hutang kesalahan pada wanita itu, melainkan mereka lah yang berhutang padanya. Mereka berhutang sepasang mata, sebuah ketentraman dan masa depan.

Saat mereka berdua masih tnggal di gunung Junji, Ye Hua pernah memberinya sebuah cermin perunggu yang sangat indah.  Saat itu Ye Hua akan melakukan perjalanan ke tempat yang sangat jauh untuk menyelesaikan suatu urusan, khawatir nantinya Su Su akan kesepian, ia menarik keluar sebuah harta karun ini dari dalam lengan bajunya dan berkata bahwa tak peduli dianapun ia berada, yang harus Su Su lakukan adalah memanggil namanya melalui cermin itu dan Ye Hua akan bisa mendengarnya kapanpun dan dimanapun, dan saat ia sedang tidak sibuk nantinya dia akan berbicara kepadanya melalui cermin perunggu itu.

Su Su tak mengerti mengapa dia masih membawa-bawa benda itu kemanapun ia pergi, mungkin karena itu adalah hadiah satu-satunya yang pernahYe Hua berikan kepadanya.

Su Su mengeluarkan cermin itu, sudah lama sekali sejak ia memanggl namanya, dan itu terasa agak aneh, "Ye Hua," dia berkata.

Ada jeda yang lama sebelum Su Su mendengar suara Ye Hua, "Su Su?"

Su Su membisu sesaat sebelum akhirnya berkata, "aku akan kembali ke gunung Junji. Jangan datang mencariku. Aku akan baik baik saja seorang diri, jagalah A-Li untukku, dulu aku terbiasa bermimpi bahwa suatu hari nanti aku dapat menggenggam tangannya dan melihat bintang-bintang diangit bersamanya, melihat bulan, awan, sinar matahari, dan menceritakan kepadanya cerita bagaimana dulu kita bertemu di gunung Junji."
"Semuanya itu tak akan pernah bisa terjadi sekarang," dia berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "Jangan katakan padanya bahwa ibunya hanyalah seorang manusia, kalau tidak para immortal di kerajaan langit semua akan merendahkannya."

Ini adalah sebuah ucapan perpisahan yang sangat biasa, tetapi tiba-tiba air mata mengalir begitu deras, darimana datangnya air mata ini?

"Dimana kau sekarang?" Ye Hua bertanya, suaranya terdengar panik.

"Platform Zhu Xian," Su Su berkata dengan tenang. 
"Su Jin berkata padaku bahwa jika aku melompat dari sini, aku bisa kembal ke gunung Junji. Aku sudah terbiasa dengan keadaan mataku sekarang, Gunung Junji adalah rumahku, dan aku sudah sangat akrab dengan sekitarnya. Aku bisa hidup disana sendiri, itu tak akan sulit, kau tak perlu khawatir," Dia berhenti sebentar sebelum akhirnya berkata, "dahulu aku seharusnya tidak menyelamatkanmu, jka aku bisa kembali ke masa lalu, Ye Hua , aku tidak seharusnya menyelamatkanmu."

“Su Su”, Ye Hua menyela. "Tetaplah disitu, jangan bergerak, aku akan segera kesana."

Pada akhirnya, Su Su tak jadi menyampaikan pembelaannya, dia tak jadi menjelaskan bahwa dia tak pernah mendorong Su Jin. Mereka tak akan bertemu lagi di kehidupan ini. Benar dan salah, baik dan buruk sudah tak penting lagi baginya.

"Ye Hua, aku melepaskanmu pergi," dia berkata lirih. 
”Kamu juga harus melepaskanku pergi. Kita tak berhutang apapun satu sama lain.”

Cermin itu jatuh dari tangannya menimbulkan suara gemerincing, menenggelamkan suara teriakan Ye Hua.
"Su Su tetaplah disitu!, kau tak boleh melompat…!”

Su Su berbalik dan melompat dari platform. Wanita itu menghilang bersama dengan angin yang bertiup. Aku tak meminta apapun darimu Ye Hua.Ini adalah jalan yang seharusnya.

Su Su tak tahu bahwa platform Zhu Xian adalah platform hukuman yang hanya berarti untuk seorang immortal, dan jika yang melompat adalah manusia mereka hanya akan jatuh bebas ke bawah seperti debu berterbangan.


Su Su juga tak tahu bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang Immortal....Bai Qian



----------PROLOG END---------






 


12 komentar:

  1. Sedihhh bacanya...jadi pengen liat dramanya asap min....makasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wajib nonton, dramanya gak kalah keren dari prolognya hehe

      Hapus
  2. darimana dapat bukunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mimin jg baru baca prolog versi eng dr amazon kindle, blm pernah full baca novelnya :D

      Hapus
  3. saya udah selesai nonton dramanya. keren....
    bikin baper.
    yang paling saya suka kesetiaan Ye Hua yg tak pernah berujung.dia rela melakukan segalanya, menerima hukuman dan mati demi Bai Qian /Su Su

    BalasHapus
    Balasan
    1. karakter ye Hua memang T.O.P bgt hohoho

      Hapus
  4. Kira - kira terjemahan indonesianya udah ada apa blum ya ni novel... pingi beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah stauku kalo versi Indonesianya spertinya blum ada

      Hapus
    2. Mudah2an segera di terbitkan.. suka banget ma ni cerita. Versi Drama dan film sma2 keren...

      Hapus
  5. drama ny keren bnget..recommended

    BalasHapus
  6. The King of Dealer | Poker Guides, Forums, Tournaments
    › poker › 카지노 사이트 poker The King of Dealer, poker, b. Poker, poker, Poker, poker! The King of kirill-kondrashin Dealer and b. Poker,. Poker, poker, poker

    BalasHapus