26/09/18

[TRANSATION] Sepotong Terjemahan Novel Heavy Sweetness, Ash Like-Frost by Dian Xian Chapter 19


Heavy Sweetness Ash Like-Frost, drama yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dian Xian ini benar-benar mencuri perhatianku. Belum cukup dengan dramanya aku pun lanjut untuk menjelajahi novelnya, dan untungnya ada menemukan blog yang menterjemahkan novel  berbahasa mandarin itu kedalam bahasa inggris. Aku belum membaca novelnya secara keseluruhan dan membaca dengan skipping karena penasaran dengan klimaks cerita (chapter dimana Jin Mi membunuh Xu Feng). 

Ada beberapa perbedaan-perbedaan antara drama dengan novel aslinya tetapi secara garis besar plotnya sama kok, dan bagian yang paling menarik perhatianku adalah bagain di Chapter 20, entah kenapa aku merasa untuk part ini (Jin Mi bangun dari koma ) feel nya benar-benar terasa sekali, rasa campur aduk yang dirasakan Jin Mi benar-benar diceritakan dengan sangat apik oleh sang penulis. It feel So Hurt

Sepotong terjemahan ini aku terjemahkan dari onesecondspring, jika kalian ingin membaca lengkap novelnya dalam bahasa inggris kalian bisa berkunjung kesana

And…this is that part, Happy Reading 😛

Part akhir CHAPTER 19 : Benang-Benang Emosi yang Dalam dan Misterius


Dalam Sekejap, Aku menikam bagian tengah punggungnya.

Ayah, aku pernah berkata aku akan membalaskanmu, tetapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hari ini, sekarang, aku sendiri yang akan membunuh orang yang telah membunuhmu, Apakah aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai putrimu?

Aku tidak ragu-ragu dan menggunakan seluruh kekuatanku untuk menusukkan belati itu kearah punggung yang tak terlindungi itu.

Aku melihat belati itu masuk tanpa halangan apapun… Aku melihatnya sendiri, dan mendorongnya masuk semakin jauh ke arah dadanya…

Dari belati itu, tetesan darah perlahan muncul ke permukaan, melalui tetesan darah itu,  sebuah bunga kecil mekar, merah terang.

Seisi ruangan terdiam, sangat sunyi sampai-sampai aku dapat mendengar suara bunga mekar.


Dia bersandar lemah di didadaku dan perlahan berbalik, kami sangat dekat hingga aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya pupil hitam yang penuh dengan rasa terkejut dari matanya , Aku dapat melihat seluruh wajahku dari tatapan matanya, melihat dengan jelas pada penghianatanku.


Dia bertanya, “mengapa…?”

Aku menjawab, “kamu tahu.”

Ia bertanya, “ Apakah kau pernah mencintaiku…?”


Aku berkata, “Tidak! tak akan pernah.”

Aku merasa bingung, “Cinta…apa itu?”


Kemuadian, ia tak berkata-kata lagi.

Aku tak pernah mengerti apa itu cinta, hanya membaca melalui buku-buku tebal dan mencoba memahami emosi dan tindakan yang digambarkan dalam buku itu. Aku belajar bagaimana untuk membuat wajahku memerah, aku belajar bagaimana untuk bersikap seperti gadis yang sedang malu-malu.

Siapa yang akan menjelaskan padaku apakah aku telah mempelajarinya dengan baik..?

Darah hangatnya menutupi kedua tanganku dan meresap kedalam gaun pengantinku. Darah merah membasahi gaun pengantinku dan memunculkan bunga-bunga yang kemudian berubah menjadi kelopak-kelopak berwarna hitam.


Mata phonixnya tertutup, seperti seorang anak yang sedang tertidur lelap. Aku perlahan melihatnya berubah menjadi cahaya, memudar, dan kemudian menghilang seperti abu yang disapu oleh angin…akhirnya ia berubah menjadi nyala api, Dalam sekejap segalanya disekitarnya rusak oleh api itu. Tetapi aku, membawa Bulu Phonix Agung, tak terluka sedikitpun….
Sebuah energi yang sangat kuat seakan masuk kedalam jantungku, aku terjatuh ke lantai, memuntahkan darah hitam. Sebuah mutiara menggelinding diantara darah itu lalu kemudian menghilang .


                                         NEXT CH 20
-----------------------------------------------------------------------------------------



See also :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar